Toko Buku Natan: South Jakarta experience, nice for Gen Z

Weekend kemarin ditengah hujan, saya mampir ke toko buku Natan, sebuah independent local book shop, di jalan Cisanggiri, Jakarta Selatan.

Toko buku ini kecil, tapi terasa warm dengan nuansa coklat dari kayu lemari dan tembok dengan cat kuning. Buku tertata rapi dan sederhana. Simple, straight forward that I like.

Tidak ada background sound dan bisa bertanya kepada staf penjaga toko buku yang ramah dan helpful, menjelaskan buku apa saja yang ada juga buku yang baru datang. Staf penjaga toko bahkan menawarkan untuk memfoto saya dan sekaligus menjadi pengarah gaya “miring atau shot dari belakang bu, supaya seperti Gen Z.” It was fun.

Melangkah ke dalam toko buku, sungguh menyenangkan melihat koleksi buku sejarah, berdampingan dengan buku-buku sejarah sastra klasik termasuk Indonesia klasik. Selain itu terdapat buku tentang beragam pemikiran, agama dan filosofi, juga self-development.

Kurasi buku di toko buku Natan terasa pas untuk Gen Z. Apalagi jika bekerja di industri komunikasi dan konten, atau entrepreneurs, buku-buku didalamnya baik untuk mengasah empati (buku sastra pada umumnya) serta untuk memperkaya diksi sekaligus memilih diksi yang tepat agar tidak hanya menyenangkan untuk dipikirkan oleh logika kita, tapi juga menyentuh emosi kita melalui empati yang terasah dan terlatih.

Toko buku Natan juga memiiki buku Anak dan Edukasi, buku-buku akademis juga karya indie, selain mengadakan program bersama komunitas misalnya diskusi buku dan workshop menulis. Beroperasi setiap hari Sunday to Monday pukul 0900 – 2100, menurut penjaga toko, banyak anak-anak yang datang ke toko buku ketika sedang pergi ke Pasar Santa. South Jakarta experience.

Sebagai penggemar karya sastrawan Mochtar Lubis, saya senang sekali melihat ada beberapa karyanya, termasuk buku Manusia Indonesia, yang berasal dari pidato kebudayaan oleh sang sastrawan pada 6 April 1977 di Taman Ismail Marzuki. Kala itu pandangan Mochtar Lubis menimbulkan pendapat pro kontra dari berbagai pihak, karena menyampaikan bahwa manusia Indonesia memiliki enam karakter: Munafik, Enggan dan segan bertanggung jawab atas perbuatannya, Bersifat dan berperilaku feudal, Percaya takhyul, Artistik atau berbakat seni serta lemah watak atau karakternya. Membuat saya jadi kembali berpikir lagi, berefleksi.

Share this post

Leave a comment